Takut itu Dekat

Takut. Adakah manusia di dunia ini yang tidak pernah takut? Atau tidak ada hal yang ia takuti di dunia ini? Bicara soal takut. Saya hingga saat ini takut naik pesawat (baca: Anxiety). Βîڪä dibilang sudah puluhan kali naik pesawat, tapi tetap saja takut itu menyertai.

“Pesawat kan terbangnya puluhan ribu kaki dari tanah. Kalau jatuh….”

“Pesawat kalau terjatuh sering di tempat yang sulit dicari. Semacam perbukitan, pedalaman, di hutan. Evakuasi butuh waktu lama, jadi nyawa….”

“Pesawat pemandangannya cuma langit dan awan. Terlalu terfokus pada sedikit objek. Ga ϐîڪä main hp, dsb. Jadinya susah ngalihin rasa takut.”

“Setiap kali mencoba untuk tidur, malah mimpi pesawat yang ditumpangin jatuh. Berasa banget. Gamang.”

Itulah kalimat-kalimat yang sering berseliweran di otak/pikiran saya. Itulah kejadian yang saya alami saat menaiki burung besi itu. Lucu? Kadang memang, bagi sebagian orang, phobia terhadap suatu hal akan terlihat lucu dan aneh. Tapi begitulah. Alasan irasional bermunculan.

Namun di sisi lain, bukankah rasa takut ϐîڪä jadi semacam alasan agar kau lebih dekat dengan Tuhan? Bukankah seorang atheis sekalipun, ternyata juga memiliki rasa takut saat ia terdampar di tengah lautan. Sendirian dengan sebatang pohon, terombang-ambing. Takut. Apa yang ia lakukan? Meminta pertolongan pada Tuhan.

Maka, hingga hari ini pun, saya masih bersyukur. Manusia perlu menakuti sesuatu. Agar ia lebih sering menyebut Asma-Nya. Agar ia lebih sering berdo’a. Agar ia senantiasa butuh dengan Rabbnya.

Advertisements