Karyaku

422492_2838643925687_1246939953_32210011_1427101364_n

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HIPNOTIS

Penulis : Shona Vitrilia

Lagi dan lagi. Ramli memandangi poster workshop itu. Matanya tak terganggu oleh seekor ulat bulu yang melintas di atas poster. Padahal ia phobia ulat bulu. Benar-benar membikin phobianya hilang seketika, hanya karena sebegitu tertariknya ia akan workshop itu.

Begitu saja. Pulang dan pergi, melewati sebuah dinding yang ditempeli poster. Setiap pergi, ia akan singgah di sana. Pulang, sama saja. Ini adalah malam kelima sejak poster itu ditempel. Pikir-pikir apa yang hendak dilihatnya. Malam begitu kelam. Lampu jalan berjarak lima meter dari dinding itu. Tentulah tak tampak tulisan barang sedikit pun. Meski punya hape untuk memperjelas tulisan, tak pula ia gunakan, karena isi poster itu sudah terekam baik di pikirannya.

Sesampainya di rumah masih saja poster itu terbayang-bayang. Terdapat gambar membayang di bawah tulisan. Perempuan yang sedang menutup mata dan di dahinya ada lingkaran yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Lingkarannya cukup banyak, hingga lingkaran itu melebihi kepalanya. Lalu di bagian bawah gambar terdapat seperti jam rantai, yang terlihat seolah bergoyang dari kiri ke kanan. Yang paling diingat Ramli adalah tulisan CH dan C.Ht. Ia ingin memperoleh gelar non akademis itu. Tapi….

Kalaulah tidak mengingat poster itu akan membawa manfaat buat orang lain, mungkin sudah ia tanggalkan dari dinding itu dan kemudian memindahkannya ke dinding kamarnya. Tapi tak apa, toh dengan mengingat baik-baik, menurutnya poster itu bisa menempel di mana saja. Di atap kamar ketika ia hendak tidur, di kamar mandi ketika ia hendak membuang hajat, di TV ketika ia hendak menonton TV.

“Ada apa dengan waang Ram? Akhir-akhir ini nampaknya waang sering murung,” tanya amak yang meski matanya hampir tak melihat karena katarak, tapi mata hatinya dapat melihat kegundahan anak-anaknya.

“Ah, oh tak ada mak.”

“Apanya yang tak ada. Jangan waang ragukan amak soal lihat-melihat.”

“Hm… ada workshop yang ingin sekali Ramli ikuti mak.”

***

Ramli kembali merenung. Ia memang tipe orang yang jika menginginkan sesuatu, sebisa mungkin akan ia usahakan untuk memperolehnya. Di kamar 2×3 m miliknya itu,tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda berwarna hitam yang ia peroleh dari lomba menulis dua tahun yang lalu. Sejenak ia ragu. Tapi mengingat perbincangannya yang terakhir dengan amak, membuatnya mantap hendak menjual laptop hadiah lomba itu. Amaknya bilang, bahwa ilmu itu lebih berharga dari barang berharga. Ramli pikir itu benar adanya.

Ketika muadzin telah selesai dengan adzannya, ketika imam telah selesai memimpin shalat subuhnya, ketika amak selesai membaca Al-ma’tsuratnya, dan Ramli pun selesai  mengerjakan semuanya. Bolehlah dikata, bahwasanya Ramlilah yang mengumandangkan adzan, menjadi imam sekaligus yang menuntun amak jika sekali-kali lupa hafalannya. Setelahnya, ia bersiap-siap, membersihkan laptop dan memasukkannya ke dalam tas.

“Hendak ke mana Ram?” Pertanyaan amak mengagetkan Ramli. Baru saja ia membuka pintu kamar, amak sudah tahu jika ia hendak keluar rumah.

“Ke sini dulu Ram, ada yang mau amak bicarakan,” amak berkata lagi sebelum Ramli menjawab.

“Ada apa mak?” Ramli melihat jam tangannya.

“Duduklah waang dulu,” sepertinya ada hal serius yang hendak amak sampaikan. Ramli menuruti ajakan amak.

Waang kemarin bilang ingin mengikuti apa itu namanya? O wokcop, worsop?” amak mengulang-ngulang kata workshop yang membuat Ramli sedikit tergelak.

“Workshop mak.”

“Ya itulah pokoknya. Ini kalung dan cincin Amak, waang jual lah ke pasar. Ambil semua untuk waang. Mudah-mudahan cukup,” mata Ramli berkaca-kaca. Apa jadinya jika ia menjual kalung dan cincin amak. Di kampung ini semua wanita seperti toko emas berjalan. Mungkin mereka akan melihat miring karena amak tak berbarang. Bahkan mungkin sampai juling-juling saking sengitnya menggosipkan amak.

“Ndak usah mak, Ramli mau….”

“Sudahlah ambil saja. Mak tahu, suatu saat Waang akan butuh untuk menambah ilmu. Jangan waangsia-siakan keinginan amak dan abak. Ilmu itu tidak satu. Semua orang berhak memiliki banyak ilmu. Termasuk waang Ram,” lagi-lagi amak memotong perkataan Ramli.

“Abak waang sudah tiada, buat beliau bangga.”

“Tapi mak, bukankah lebih baik jika uang ini amak gunakan untuk berobat mata.”

Insya Allah Ram, dengan daun katarak saja, jika rutin amak teteskan ke mata tentu akan sembuh,” padahal Ramli tahu bahwa amak selalu merasa kesakitan yang amat sangat saat air daun itu masuk ke matanya. “Mak akan tahan bertahan berapa lama untuk menahan sakit itu?” tanyanya dalam hati.

“Sudahlah jangan berdebat lagi. Pergilah sekarang.”

***

“Memang Zan sekarang sedang dalam masa-masa sulit mak. Si Reni sering sakit-sakitan. Gaji habis buat berobat.”

Waang terlambat datang. Mungkin si Ramli sudah mendaftar.”

“Mendaftar apa Mak?”

“Dia ingin menambah ilmu. Ikut… ah entah apa namanya amak ndak ingat. Yang jelas dalam rangka menambah ilmu.”

“Ilmu?”

“Iya, yang amak ingat contoh gampangnya itu kata si Ramli seperti si Romi Rafael.” Namanya dapat diingat amak dengan baik, karena dulu teman sepermainan amak sewaktu kecil bernama Romi Rafael juga.

“Apa? Hipnotis itu mak. Haram mak, itu haram hukumnya. Memakai jin. Kenapa amak izinkan Ramli menuntut ilmu yang dilarang oleh agama? Ndak ingat amak kejadian beberapa bulan yang lalu di Lampung?”

“Haram? Bercanda waang Zan. Ramli, waang, amak dan abak didik sedari kecil tak lepas dari Surau. waang juga tahu bagaimana adik waang tu. Janganlah berburuk sangka.”

“Jelas mak itu haram. Ah sudahlah mak, jelas Zan yang lebih membutuhkan uang, kenapa mak lebih memilih Ramli yang jelas-jelas akan menuntut ilmu yang tidak di ridhai Tuhan? Zan pulang.” Fauzan membanting pintu rumah. Tak pernah sebelumnya ia berperilaku demikian. Mungkin karena beban hidupnya sekarang. Masalah kecil menjadi besar, masalah besar menjadi semakin besar.

Dan benar kata amak. Ramli sudah selesai mendaftar. Air mukanya cerah. Perlu diketahui bahwa semua bermula bukan dari sehabis menonton acara Romi Rafael, melainkan dari artikel yang ia baca di internet. Tentang betapa besarnya manfaat hypnoterapi.

***

Akhirnya dua gelar non akademis itu ia dapatkan. Setelah mengikuti workshop dan kemudian mengikuti ujian. Ia pun mendapat pujian dari fasilitatornya. Karena menurutDavis Husband Scale of Hypnotic Susceptibility, ia berada di posisi 29 dari 30 angka skala yang ada. Semakin mendekati angka 30, semakin bagus. Setelah memperoleh sertifikat dari organisasi hypnosis & hypnotherapy pertama dan terbesar di Indonesia, Ramli kemudian mengikuti workshop lagi. Ia memutuskan untuk menjual laptopnya. Kali ini ia berharap memperoleh sertifikasi clinical hypnotherapy.

***

“Saatnya beraksi,” ucapnya dalam hati sembari tersenyum. Sebuah pamflet baru saja jadi. Hasil desainnya sendiri dan terlihat jauh lebih menarik dari poster yang membawanya mengikuti workshop kemarin. Sebenarnya Ramli ingin sekali membuka klinik terapi, tapi ia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyebarkan pamflet agar orang-orang yang memerlukan jasanya bisa menghubunginya. Ia sebarkan di tempat-tempat umum. Terlebih di kampus-kampus. Ia menaruh harga khusus untuk mahasiswa. Barangkali mahasiswa-mahasiswa tahun akhir yang sedang mengerjakan skripsi memerlukan bantuannya. Memanajemen gangguang stres atau cemas saat akan ujian kompre.

Awalnya semua ini ia lakukan untuk menambah biaya berobat mata amak. Honor menulis tidak cukup karena uang tersebut ia gunakan untuk biaya kuliah. Amak juga tidak berpenghasilan tetap. Hasil berkebun tentu ada musimnya. Belum lagi potongan untuk menggaji orang, karena sejak mata amak sakit, amak tak pernah turun ke ladang. Namun siapa menyangka jika hypnoterapi juga bisa membantu menyembuhkan mata amak? Karena pada dasarnya kondisi mental dapat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit.

Dan memang benar, ini sudah hari ke empat belas. Jika dulu amak hanya bisa melihat Ramli seperti bayangan hitam, kini amak bisa melihat warna baju yang Ramli kenakan. Meski masih samar. Tentu semua butuh proses. Daun katarak juga mengambil bagian dalam proses penyembuhan amak.

Di hari ke empat belas ini pula Ramli memandang saldo tabungannya. Modal mengikuti workshop sudah balik. Yang paling besar pemasukannya ia peroleh dari mahasiswa dan dari rumah sakit. Sejak salah satu pasien menggunakan jasanya, maka bertiuplah angin memberi kabar pada pasien-pasien lain.

Ramli merasa benar-benar bahagia. Amak hampir sembuh, phobianya akan ulat bulu sembuh, klien juga riuh berdatangan. Meski demikian, Ramli tetap ingin mata amak diberi sentuhan medis. Rencananya nanti sore Ramli akan membawa amak ke dokter. Biar mata amak normal kembali.

Tapi kebahagiaannya itu sedikit tersapu setelah mengetahui dari amak bahwa Fauzan kakaknya pernah datang ke rumah dan mengatakan bahwa profesi yang ia jalani sekarang adalah profesi haram. Amak terloncat kata saat mereka berbincang-bincang di teras.

“Uda tentu tahu siapa Ram, kenapa uda bilang profesi hypnoterapis itu haram. Ram ndak mungkin memilih jadi hypnoterapis jika profesi ini memang haram adanya,” ucap Ramli pada amak.

Seminggu sudah berlalu, sejak amak-Ramli bawa berobat ke dokter. Amak sudah bisa nonton acara Romi Rafael sekarang. Saat sedang asyik menonton, pintu diketuk dengan cukup keras. Amak dan Ramli hampir jantungan dibuatnya. Ramli segera menuju pintu, jika tak segera di buka, barangkali pintu rumah roboh dibuatnya.

Fauzan dengan geram sudah berada di ambang pintu. Ia tidak sendirian, tapi dengan banyak orang. Mereka kemudian berteriak-teriak. Tidak jelas apa yang mereka teriakkan. Yang terdengar jelas hanya suara Fauzan. “Apa yang waang lakukan Ram? Ha, apa yang sudah waang lakukan?”

Ramli heran dengan pertanyaan kakaknya sekaligus risih karena air liur kakaknya itu muncrat ke wajahnya. “Tenang dulu lah Da. Ada apa ini? Baiknya dibicarakan baik-baik.”

“Apanya yang baik-baik? Kemarin di Pasar Pakan ada orang yang terkena hipnotis. Tadi di Belakang Balok beberapa mahasiswi juga ada yang kena hipnotis. Uang dan barang berharga mereka diambil semua.” Fauzan menjelaskan. Masih dengan berteriak dan air liur yang muncrat ke wajah Ramli.

“Lalu?”

“Lalu, lalu. Ya jelas waang pelakunya kan? waang menuntut ilmu itu kan? Ilmu haram itu?”

“Da, masuklah dulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”

“Ah, di sini saja. Sungguh malu ambo punya adiak seperti….” Belum selesai ia berkata, tiba-tiba kayu jatuh menimpa kepalanya. Kayu itu jatuh dari atap, mungkin ujung-ujungnya telah habis dimakan rayap. Ramli sudah lama hendak ingin membetulkan, tapi kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus terapis membuatnya lupa.

Untungnya Fauzan tidak pingsan. Hanya kepalanya saja berdarah. Ketika semua orang bergerak hendak mengantarnya ke rumah sakit, ia langsung menolak mentah-mentah. Sebab ia takut sekali dengan jarum suntik. Apalagi jika kepalanya ini robek, tentulah bakal dijahit. Akhirnya Fauzan di bawa ke dalam. Amak berinisiatif ke belakang rumah untuk mengambil daun pucuk ubi guna menghentikan pendarahan Fauzan. Tapi pucuk ubi di belakang rumah sudah habis dijual dan sisanya sudah dimasak tadi pagi. Amak bergegas mencari di rumah tetangga.

Sementara di ruang tamu Fauzan meronta-ronta kesakitan. Ramli meminta izin pada kakaknya itu, agar ia bisa segera mengurangi pendarahan yang dialami uda Fauzan. Kakaknya tak menjawab. Erangan semakin menjadi. Seperti mau melahirkan saja.

“Da, jawablah pertanyaan Ram. Uda bersedia Ram hypnos? Biar darahnya berkurang.”

“Terserah waang laaa….” Fauzan setengah berteriak. Suaranya agak parau. Mungkin karena berteriak-teriak di depan rumah tadi.

“Bilang saja, Ya, Uda bersedia.”

“Yaaa… Uda bersediaaa….” Ramli meminta orang-orang untuk diam. Dan suara gaduh tadi hilang seketika kemudian berganti erangan kecil dan nafas yang tidak begitu teratur, namun semakin lama semakin teratur dan semakin teratur. Uda Fauzan diarahkan pada kondisi rileks. Kontraksi pembuluh darahnya pun menurun, sehingga pembuluh darah membesar. Akibatnya tekanan darah menurun dan pendarahan dapat berkurang.

Selesai. Semua orang ternganga. Fauzan juga merasa tak percaya. Amak datang dari arah belakang dengan mulut penuh berisi daun pucuk ubi. Amak berencana daun kunyahannya itu akan dibalurkan ke luka Fauzan. Seketika amak paham apa yang terjadi. Amak mengeluarkan daun pucuk ubi dari mulutnya dan segera menaruh daun kunyahan itu ke dahi Fauzan. Amak juga berkata, “Yang menghipnotis kemarin dan tadi siang sudah tertangkap.” (Di muat di http://www.annida-online.com/media.php?module=detailartikel&id=2611&page=1)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Terkubur Sembari Bersujud Memeluk Al-Qur’an

Jum’at, 9 Oktober 2009
Sejak kamis sore kami sudah sampai di Pauah Kamba, Pariaman. Hingga malam, waktu kami habiskan untuk membantu mengepak logistik yang akan dibagikan ke korban bencana, sembari menunggu rekan-rekan dari Bukittinggi yang baru datang pada malam harinya.

Sebelum Subuh kami sudah bersiap-siap. Berangkat sesegeranya dan berniat melaksanakan shalat subuh di jalan. Kami menaiki mobil pick up. Aku sibuk menutupi hidung dan mulutku dengan topi sweater, karena Aku baru saja sembuh dari demam. Jika tidak ditutup, angin Subuh bisa membuatku batuk-batuk. Baru jalan beberapa meter, adzan berkumandang. Kami berhenti di sebuah Mesjid. Setelah shalat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak ditemani oleh redup-terangnya lampu jalanan dan perumahan, karena listrik masih padam. Tak luput pula pandanganku melihat atap-atap rumah yang mencium tanah. Tanah merah mengambil alih, mendominasi pemandangan perbukitan dan tepi jalan yang biasanya berwarna hijau. Jalan-jalan retak. Tak ayal, mobil kami seringkali berjalan perlahan, melewati jalan yang keadaanya tak lagi rata. Pembatas jalan pun telah anjlok dimakan jurang. Miris hati ini melihat. Apalagi melihat sekolah-sekolah tak lagi utuh seperti biasanya.

Sesampainya di Padang Alai kami segera menemui tim sekolah rakyat yang berasal dari Jakarta. Kami turun di daerah gempa sebagai anggota tim trauma healing untuk anak-anak. Sewaktu kami berada di dalam kelas yang keadaannya masih bisa dipakai, seseorang menghampiri kami. Ternyata beliau relawan dari perusahaan Kaltim. Ia seorang dokter. Ia sempat terjun untuk mencari korban. Pembicaraan awal seputar pengenalan diri masing-masing. Hingga sampailah di pertanyaan yang jawabannya membuat kami terpana.

Ia pun bercerita. “Sewaktu Saya dan teman-teman mencari korban di daerah atas sana, kalau tidak salah namanya Koto Tinggi. Kami menemukan sebuah keajaiban. Mungkin Allah ingin menunjukkan kuasa-Nya pada kami. Waktu itu Saya mencium bau bangkai. Menyengat sekali. Kami segera menggali dan ternyata yang kami temukan seekor binatang. Tapi entah kenapa setelah selesai, Saya masih memiliki firasat kalau masih ada mayat di sana.”

“Akhirnya Saya tidak menghiraukannya dan kemudian mencari lokasi lain. Setelah sampai di lokasi yang tidak berjauhan dari lokasi semula, Saya masih tetap memiliki firasat itu. Saya memutuskan untuk kembali ke lokasi awal. Saya masih ingat tempatnya di mana karena Saya sudah menandai ada sebuah batu di dekat sana. Akhirnya Saya dan teman-teman menggali longsoran tanah itu, memang benar, ternyata ada mayat. Mayat itu berada dalam posisi sujud sembari memegang Al-Qu’ran di kedua tangannya dan tidak berbau sama sekali. Padahal sudah tiga hari, seharusnya sudah bau. Binatang yang saya temukan saja baunya sudah menyengat”. Seketika bulu romaku berdiri. Subhannallah… aku tak pernah membayangkan akan memperoleh cerita seperti ini.

Sabtu, 10 Oktober 2009
Di sini kami menemukan banyak relawan. Ada relawan dari perusahaan yang berasal dari Kalimantan Timur, Mahasiswa dari Institut Teknologi Medan, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand, dan masih banyak lagi. Ada yang berfokus pada batuan logistik, bantuan medis, dan bantuan psikologis.

Bantuan psikologislah yang bisa kami berikan. Kami kembali bermain, menonton film, dan membaca buku cerita di tenda. Hingga hubungan kami pun kian dekat. Sehingga diketahuilah ada anak bernama Nando yang diklaim teman-temannya sebagai artis Padang Alai. Ia sering di undang ke acara-acara pernikahan untuk bersenandung. Ada pula Rizki yang jago ngaji yang sering menang MTQ. Lain pula halnya dengan Nia. Siswi kelas 6 SD yang tomboy tapi manis, jago berteriak. Belum lagi si kembar Dea dan Dian yang hobi bergelantung. Winda siswi kelas 3 SD yang pendiam namun penuh kejutan. Dan masih banyak lagi.

Sayang, karena ada sesuatu hal, saya harus kembali ke Padang. Tetapi, ini akan menjadi cerita yang terus berkesan di hati kami. Shona Vitrilia.

Dimuat Majalah Girlie Zone edisi 9/ November – Desember 2009.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bermain Rubik Dapat Melatih Kesabaran Anak

Rubik merupakan permainan lama yang muncul kembali. Permainan ini sejenis catur, yang lebih menggunakan kemampuan otak untuk memainkannya. Kubus rubik atau disingkat rubik saja adalah sebuah teka-teki mekanik yang berbentuk kubus, dimana setiap sisinya dibagi menjadi 9 buah kotakan-kotakan kecil yang memiliki kelompok warna awalan yang sama untuk masing-masing sisinya dan dapat diputar sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kotakan-kotakan yang acak di masing-masing sisinya. Cara memainkannya adalah dengan mengacak dan mengalihkan kotakan-kotakan tersebut ke sisi-sisi yang sebenarnya sesuai dengan kelompok warnanya.

Secara resmi rubik lahir pada tahun 1974 di Budapest, ibukota Hungaria. Penemunya adalah Erno Rubik yang merupakan pemahat, profesor sekaligus dosen di Depatemen Desain Interior di Akademi Seni Terapan dan Kerajinan. Oleh karena itu, permainan ini diberi nama rubik. Erno Rubik memiliki minat dalam geometri, dalam studi tentang bentuk-bentuk 3D, dalam konstruksi dan dalam mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi kombinasi bentuk dan bahan, bukan hanya secara teori, tapi juga dalam praktiknya.

Dalam perjalanannya, ia lebih suka mengkomunikasikan ide-idenya dengan menggunakan model nyata, terbuat dari kertas, kardus, kayu, plastik dan menantang murid-muridnya untuk melakukan percobaan dengan memanipulasi bahan yang dibangun secara jelas dan mudah diinterpretasikan sebagai suatu bentuk. Itu adalah kesadaran bahwa unsur-unsur paling sederhana sekalipun, jika secara cerdik dan kreatif digunakan dan dimanipulasi, akan menghasilkan berbagai bentuk yang bermanfaat. Kesadaran inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran rubik.

Seiring berkembangnya waktu, berbagai macam bentuk rubik pun lahir. Jika selama ini kita hanya familiar dengan rubik 3x3x3, namun sebenarnya ada jenis atau bentuk rubik yang lain, yaitu 4x4x4, 5x5x5, 6x6x6, 7x7x7, Megaminx, Pyraminx dan masih banyak lagi. Dan satu generasi terkini telah berkembang dalam membuat inovasi bagi permainan Rubik 360, dimana tidak lagi harus memutar kubus hingga menjadi kesatuan warna. Enam buah bola kecil yang berbeda warna berada di dalam lingkaran dan melalui lubang-lubang yang ada, kita bertugas untuk menavigasikan bola tersebut. Keberhasilan dinilai jika masing-masing dari jumlah bola tersebut berhenti pada posisi lubang dengan warna yang sama.

Selain bentuknya yang berbeda-beda, kompetisi yang diadakan juga dengan cara-cara yang tidak biasa. Seperti rubik buta (pemain diberi waktu melihat rubik yang sudak diacak, lalu memecahkannya dengan mata tertutup), rubik buta secara tim, memecahkan rubik di dalam air dengan satu tarikan nafas, rubik dengan satu tangan maupun rubik dengan satu kaki.

Beberapa bulan yang lalu, seorang mahasiswa Gunadarma D3 Manajemen Informatika telah berhasil memecahkan rekor dunia untuk kategori rubik 3x3x3 dengan jumlah terbanyak (Multiple Blindfold) yaitu 16 buah dalam waktu 57 menit dengan mata tertutup dalam kompetisi Jakarta Open pada tanggal 31 Januari 2010.

Bermain rubik ini, selain murni permainan ketangkasan logika, anak juga dituntut bekerja keras untuk menyelesaikannya. Tentunya akan dibutuhkan kesabaran yang lebih, karena anak harus berpikir perlahan. Tidak ada ruang menebak karena kesalahan menebak akan merusak kerja yang dilakukan dalam satu jam terakhir. Ini akan membuat anak-anak untuk berpikir dengan hati-hati sebelum membuat gerakan. Melalui permainan, mereka belajar bahwa kesabaran dan ketekunan adalah kunci keberhasilan. Shona Vitrilia/dari berbagai sumber.

Dimuat Harian Umum Singgalang, Mei 2010.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mengingat Kematian

Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar ra. mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah SAW tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).

‘Umar bin ’Abdul ‘Azis adalah pemimpin yang senantiasa mengingat mati sehingga hari-hari dan waktu-waktunya berusaha dimanfaatkan dengan optimal. Suatu ketika diceritakan bahwa setelah beliau mengantar pemakaman pamannya, beliau pun hendak tidur siang untuk beristirahat. Namun tiba-tiba anaknya masuk dan berkata, “Wahai ayah, mengapa ayah enak-enak tidur padahal banyak hak-hak rakyat yang belum tertunaikan”.

Umar menjawab, “Saya letih sekali. Setelah dhuhur nanti akan saya lanjutkan”. Anaknya pun berkata, “Wahai ayah! Apakah ayah bisa menjamin bahwa setelah dhuhur nanti ayah masih hidup?”
Mendengar penuturan anaknya yang begitu tulus Umar pun tersentak. Ia pun segera bangkit dan menunaikan hak-hak rakyatnya yang belum tertunaikan.

Sebagian besar ulama salaf pun pernah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri, jika ia mengalami future (kelesuan) dalam beramal. Ia pun turun ke dalam lubang itu, lalu ia menyelonjorkan tubuhnya di dalam lahattnya kemudian berkata: “Wahai diriku! Anggaplah bahwa engkau telah mati dan engkau telah berada di dalam lahatmu, apakah yang Engkau inginkan atau angan-angankan?” maka ia pun menjawab: “ Aku ingin dikembalikan ke dunia agar aku dapat beramal shaleh.” Lalu ia pun berkata kepada dirinya sendiri: “ Engkau telah mencapai angan-anganmu, berdirilah dan kerjakanlah amal shaleh.”

Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Sebagaimana sabda Nabi SAW “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa`i, & Ibnu Majah). Mengingat mati dengan hati dan lisan, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian sudah di depan mata. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong seseorang untuk beramal.

Mengingat mati di kala sempit akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634). Karena apabila ajal telah menjemput tiada seorang pun dapat menangguhkannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an;

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)

“Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61).

Saudaraku, jangan pernah menganggap remeh akan datangnya ajal. Seringkali kita berbuat dosa. Ada perbuatan yang kita sadari dan ada yang tidak kita sadari. Bahkan dengan beranggapan bahwa kita akan dapat terus hidup hingga esok, membuat kita masih tetap nyaman akan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Merasa seolah-olah masih ada waktu untuk bertobat. Dalam firman-Nya Allah katakan: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)

Saudaraku, tidak ada jaminan kita akan tetap hidup hingga esok. Betapa banyaknya kejadian disekitar kita, mereka yang hari ini sehat esoknya sudah tiada. Jangan sampai kita termasuk kepada golongan orang-orang yang akan menyesal dikemudian hari.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9). Shona/sumber.

Dimuat Majalah Tasbih, edisi Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s