Catatan Parenting #2: Homeschooling Nggak Ya?

20160823_104050-01

Dulu jaman kuliah, ada denk belajar tentang HS. Kelemahan dan kelebihannya. Menarik sih tapi belum tertarik. Karena yang menonjol bagi saya saat itu kelemahannya, perihal sosialisasi anak-anak HS yang cenderung kurang terpenuhi. 

Tapi makin ke sini malah makin tertarik. Gegara ngeliat sosok Ibu Septi yang sukses mengHSkan ketiga anaknya. Ditambah juga ngeliat sosok Teh Kiki Barkiah dan juga Teh Patra. Saya pun nyoba nyari tau lebih dalam soal HS. Mulai dari bergabung di komunitas online, browsing, baca-baca hingga ikut kelas webinar.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menjalankan HS Usia Dini buat duo khayes. Yaaa happy sih. Tapi ada keraguan, okelah usia dini masih kategori ringan. Lha kalau udah masuk usia SD, masih bisa nggak ya sayanya. Hm…. Emang saya sepintar apa? Belum lagi bakal ngajarin beberapa anak sekaligus kan. Manage waktunya begimana? Emosi? Emosi? Bisa kejaga dengan baik nggak? Heuheu…

Ah, semoga Allah mudahkan sajalah. Yang terbaik… yang terbaik.. aamiin. Sembari terus belajar dan memantaskan diri. Tapi yang pasti, nanti tetap ditanyakan ke anaknya, mereka mau sekolah sama ummi di rumah atau di sekolah pada umumnya.

Daaan… untuk hal ini saya ngarsip lagi deh. Namanya belajar ya kudu banyak baca. Berikut materi dari Bu Ida Foundernya Homeschooling Muslim Nusantara. Catatan Parenting #2 buat saya. Noted!

Pembelajaran Metode Homeschooling

Pilihan untuk menyelenggarakan sekolah rumah oleh orang tua harus memiliki dasar kuat. Model pembelajaran yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan anak menjadi alasan utama memilih Homeschooling (HS).

📝 Beberapa alasan menyebabkan orang tua memilih HS, antara lain:
– dapat menyelenggarakan pendidikan keagamaan secara lebih intensif,
– menciptakan suasana pembelajaran yang baik serta pembelajaran dapat diatur sesuai kebutuhan dan situasi saat itu.

📝 Model HS terlihat unggul karena kegiatan pembelajaran dilakukan lebih mendalam, terangkai dengan kegiatan sehari-hari. Waktu belajar yang luwes disesuaikan dengan keinginan dan kesiapan orang tua juga anak. Orang tua harus memiliki komitmen terhadap pelaksanaan HS. Orang tua harus mau mempelajari kurikulum, mendeskripsikan secara kreatif sesuai kondisi anak dan mendampingi saat proses pembelajaran. Kerja sama yang baik dengan anak maupun pihak-pihak lain termasuk jaringan sekolah rumah menjadi solusi ketika menemui kesulitan dalam mempraktekkan HS.

📝 Hal penting yang harus dipegang teguh betul oleh orang tua saat menyelenggarakan sekolah rumah adalah memahami anak. Saat belajar, orang tua harus menjadi teman belajar bagi anak. Anak harus dipahami sebagai pribadi unik, otentik dan bukan orang dewasa mini. Ada saatnya  anak perlu bermain. Karenanya, orang tua tidak boleh arogan dengan memposisikan sebagai guru. Orang tua harus mengembangkan konsep belajar bersama dengan anak.

📝 Berkaitan dengan materi pembelajaran, orang tua juga harus mau membuka diri dengan menambah pengetahuannya. Namun hal ini tidak mengharuskan orang tua menguasai semua jenis ilmu pengetahuan. Jika diperlukan, mereka dapat mendatangkan guru untuk mata pelajaran yang bersangkutan dan belajar bersama dengan anak. Dengan demikian anak merasa memiliki sahabat saat belajar dan tidak merasa rendah diri. Konsep sekolah rumah dengan kurikulum yang disusun bersama, motivasi belajar muncul dari dalam diri anak.  Belajar sambil bermain, membuat anak merasa nyaman, meskipun belajar sepanjang hari. Anak-anak jadi senang belajar dengan motivasi internal, motivasi dari anak itu sendiri sehingga kegiatan home schooling ini, jika ditanya kapan belajarnya, dari bagun tidur sampai tidur lagi. Di mana belajarnya? Di mana saja! Bisa di kamar tidur, ruang tengah, kamar tamu, di halaman, atau juga di luar. Entah pergi ke sawah, ke panti asuhan, penitipan bayi-bayi telantar, sampai mungkin juga belajar di mall. Tapi yang penting, anak-anak dilibatkan untuk menyusun kurikulumnya dan mencari sumber belajar. Tapi yang penting, anak-anak dilibatkan untuk menyusun kurikulumnya dan mencari sumber belajar.

📝 Homeschooling adalah alternatif pendidikan lain dari organisasi sekolah. Anak belajar dibawah pengawasan orang tuanya. Anak dan orang tua yang akan menentukan isi atau materi pelajaran mereka. Mereka pun memiliki kontrol penuh akan isi pelajarannya. HS bukan memindahkan sekolah ke rumah. Kegiatan belajar mengajar agak berbeda dengan di sekolah. Orang tua tidak perlu selalu menjadi guru tetapi orang tua lebih berperan sebagai fasilitator.
Tujuan pendidikan untuk anak adalah agar membuat anak love to learn, cinta belajar, bukan demi menciptakan anak jenius yang menguasai semua bahan yang diajarkan.

Menarik ya! Dan saat ini saya pun sudah tertarik. Tapi lagi-lagi pertanyaannya, mampukah saya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s