Catatan Parenting #1: Mengajarkan Tauhid Pada Anak

20160822_092414-01

Bener-bener mis yu somad sama blog satu ini. Walau pas awal rada kagok ngeliat perubahan tampilannya, tapi Alhamdulillah masih bisa ditaklukan, hehe. Kenapa setelah ditinggal lama tetiba kepikiran mau diisi lagi? Keinget sama yang Ali Bin Abu Thalib bilang,

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. – Ali Bin Abu Thalib

Saya yang masih belajar menjadi orang tua ini, pengen mengikat setiap ilmu yang diperoleh dengan cara menuliskannya di sini. Dan saya menamai setiap postingan dengan awalan kata Catatan Parenting.

Hari ini saya belajar tentang Mengajarkan Tauhid Pada Anak. Buka-buka lagi arsip lama, eh nemu Resume Kuliah Whats App. dari Rumah Main Anak tentang ini.

Mengutip dari materinya Mba Juditha Elfaj (Narasumber), tauhid (Mengesakan Allah) merupakan perkara terpenting yang Allah perintahkan atas hamba-Nya. Demikian pula, Syirik (Menyekutukan Allah) merupakan perkara terpenting yang Allah larang atas hamba-Nya. Oleh karenanya tidaklah Allah Subhaanahu wa ta’ala mengutus rasul-Nya di setiap jaman, kecuali mereka mengajak manusia kepada Tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.

Dan telah Kami utus pada setiap umat rasul (-untuk menyeru-), “Sembahlah ALLAH, dan jauhilah Thaghut!”) (QS. AnNahl : 36).

Maka, perkara Tauhid dan Syirik menjadi hal terpenting pula yang harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Keduanya (menanamkan Tauhid dan menjauhi perbuatan Syirik) di antaranya dapat ditempuh dengan beberapa hal berikut ini.

1. Mengajarkan talqin ketika anak mulai belajar bicara
Hal pertama yang kita latih pada lisan anak yang baru bisa berbicara tentunya bukan hanya panggilan untuk ayah bunda saja. Tapi anak juga perlu dilatih melafazkan nama Tuhannya juga Rasulnya agar lisannya tidak kelu dan terbiasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ajarkanlah anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan Laa ilaaha illallaah, dan ajarkanlah pula agar di akhir hayatnya mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” (HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman)

2. Membiasakan kalimat thayyibah di setiap kesempatan
Biasakan anak untuk selalu mengingat Allah di setiap keadaan, baik dalam keadaan senang maupun sedih. Misalnya dengan membiasakan hamdalah ketika bahagia, istidraj (innalillahi) ketika sedih, insya Allah ketika berjanji, bertakbir ketika melewati tanjakan, bertasbih ketika melewati jalan menurun, dll kemudian kita ceritakan juga arti dan maknaNya. Karena tidak ada sesuatupun yang terjadi pada kita melainkan telah Allah tentukan dan merupakan kebaikan untuk kita.

3. Menyertakan Allah dalam memperkenalkan anak pada sesuatu
Ketika sedang memperkenalkan nama-nama benda di muka bumi ini, hal tsb sama halnya dengan kita sedang memperkenalkan makhluk atau hasil ciptaan Allah. Maka, jadikan pula momen tersebut sebagai cara memperkenalkan anak pada Yang Maha pencipta. Misalnya, “lihat, bulan begitu indah di malam hari. Maha besar Allah yang menciptakan bulan ya”, “ini adalah buah pisang, Allah ciptakan untuk kita makan. Yuk adik habiskan”, dsb.

4. Membiasakan doa sehari-hari
Hal ini tidak sekadar mengafal beragam doa semata, melainkan kita juga sedang menanamkan nilai-nilai keimanan sebagai berikut.

  • Mengajari anak berdo’a itu artinya juga menanamkan keyakinan kepadanya bahwa Allah itu ada.
  • Menanamkan keyakinan kepadanya bahwa Allah itu Maha Mendengar (apa yang disampaikan oleh hamba-Nya) dan Maha Mengetahui (apa yang diperbuat oleh hamba-Nya dan segala permasalahan yang dihadapi mereka)
  • Menanamkan keyakinan kepadanya bahwa Allah Maha Kaya (dan Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu) serta mampu memenuhi seluruh kebutuhan hamba-Nya.
  • Berdo’a merupakan tanda baik sangkanya seseorang terhadap Allah karena mustahil seseorang berdo’a dan memohon kepada Allah kecuali karena dia berharap dan menyangka bahwa Allah pasti akan mengabulkan do’a dan memenuhi permintaannya.

5. Dialog iman
Dalam hadits Mu’awiyyah bin Hakam As-Sulaimi radhiyallahu ‘anhu, melalui metode dialog, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam mengajari seorang budak anak wanita berkenaan tentang tauhid. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada anak wanita tersebut, “Dimana Allah?”. Anak wanita itu pun menjawab “Allah di atas langit”. Kemudian beliau bertanya lagi, “Siapa saya?” Jawab gadis belia, “Engkau Rasulullah (utusan Allah).” Kemudian Rasulullah memerintahkan agar anak wanita itu dibebaskan dari status budaknya, “Dia seorang mukminah” (HR. Abu Daud No.930) di shahihkan Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah).

6. Hindari menakut-nakuti anak pada hal makhluk atau hal yang tidak beralasan
Menjauhkan anak dari perasaan takut yang tidak beralasan (khauf sirry) juga merupakan cara pertama untuk menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada kesyirikan. Khauf Sirry (takut tersembunyi) adalah sejenis takut yang tidak beralasan dan bukan merupakan tabi’at asal manusia. Syirik tumbuh tidak lain karena ada keyakinan bahwa ada sesuatu (benda mati atau makhluq hidup) selain Allah Subahaanahu wa ta’alaa yang memiliki sifat-sifat ilaahiyah (berhak diibadahi: disembah, dimintai pertolongannya, dicintai, ditakuti, dijadikan tempat bergantung). Dan kecenderungan yang pertama kali tumbuh pada manusia -terutama anak-anak- adalah rasa takut. Maka hendaknya anak-anak dijauhkan dari cerita-cerita atau khayalan-khayalan yang membuat tumbuhnya khauf sirry pada jiwa mereka. Karena bibit-bibit kesyirikan pertama kali tumbuh di dalam jiwa anak melalui takut yang tidak beralasan ini.

7. Menyediakan kesempatan khusus mengajarkan tauhid pada anak
Tentu kita teringat kisah Luqmanul Hakim, seorang ayah yang sholih, yang Allah ta’ala abadikan dalam Al Qur’an.

Dan (-ingatlah-) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberikan pelajaran : Wahai anakku, janganlah kau sekutukan Allah.  Sesungguhnya perbuatan menyekutukan Allah (syirik) itu kedzaliman yang sangat besar. (Luqman: 13)

Kata (وَهُوَ يَعِظُهُ ) di dalam ayat ini menggambarkan bagaimana Luqman dalam keadaan menyengaja memberikan wejangan kepada anaknya. Memang selayaknya orangtua menyediakan waktu khusus untuk memberikan pelajaran untuk anak-anaknya.

8. Iringi dengan doa dan keteladanan
Beberapa hal di atas tentunya perlu diiringi dengan isti’anah (permohonan tolong) kepada Allah ta’ala serta permohonan hidayah kepada-Nya. Di samping itu hendaknya menjauhi segala bentuk perkataan yang menyelisihi akhlak mulia maupun perbuatan haram di depannya.

Alhamdulillah semoga pelajaran hari bisa diserap dengan baik dan bisa saya aplikasikan dengan baik ^_^ aamiin. Terimakasih materinya Mba Judith, sangat bermanfaat.

Sedikit oleh-oleh dari dialog iman siang kemarin:

Sesi makan siang. Formasi lengkap.

Kakak: Mi kakak mau kayak ummi juga, pake tangan makannya. Ga mau pake sendok.
Ummi: Oh iya boleeeh.. Cuci tangan dulu ya.
Kakak: Ok.

Selama sesi makan kakak seperti biasa, suka bawel 😀 ngomong apa aja yang mau diomongin.

Abi: Kak, makan dulu. Ngobrolnya nanti ya
Ummi Abi sepakat ngediemin.
Tapi masih aja ngomong, hingga ngasi kode kode, tapi Ummi Abi ga berkutik.

Kakak: Mi, tempenya habis..

..Sepi..

Kakak: Bi, tempe kakak habis..

..Sepi.. *karena nasinya juga udah sisa dikit, jadi ummi abi tetep diem

Kakak: Tempe kakak habis nih Ya Allah..

Wikiki, ummi langsung cekikikan. Ummi Abinya nyuekin ga ngegubris, eh doi ngomong ke Allah, wkwk..

Alhamdulillah…

Advertisements

7 thoughts on “Catatan Parenting #1: Mengajarkan Tauhid Pada Anak

  1. Ada buku anak tipe buku bantal yang empuk itu lho, aman buat bayi. Judulnya “Semua Ciptaan Allah”. Efektif untuk mengajarkan alam seisinya adalah ciptaan Allah

  2. Semoga anak-anak Mbak Shona kelak jadi anak-anak yang soleh dan solehah ya. Aamiin.
    Makasih banget diingetin, insya Allah kalau nanti dikariniai anak, aku bakal nerapi ilmu dari Mbak Shona ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s