Eh? #ShalihahWannabe

Lupa, tepatnya tanggal berapa. Yang pasti hari Jum’at malam. Saya berbincang-bincang dengan teman saya. Saat itu suami sedang tugas ke luar kota. Perbincangan di awali oleh saya, tentang pengalaman saya yang dulu pernah menggeluti dunia training. Saya merasa, trainer tidak jauh beda dengan ustad. Karena apa yang mereka sampaikan, ajarkan, bagikan, sudah selayaknya sesuai dengan penerapan di kehidupan mereka sehari-hari. Pada kenyataannya, ada beberapa rekan trainer (tidak semua) yang ternyata mahir bercuap-cuap berbagi ilmu, tetapi saat mereka menghadapi tantangan dalam hidup, tiba-tiba rumus atau mantra yang mereka ajarkan bak hilang ditelan bumi. Hal tersebut membuat saya berpikir ulang untuk terjun kembali ke dunia tersebut. Selamat saya ucapkan bagi mereka yang benar-benar bisa menerapkan, yang sesuai dengan apa yang diucapkan.

Beranjak dari perbincangan tersebut pulalah, kenapa ya? Saya merasa branding-branding yang dilekatkan juga sesuatu hal yang berlebihan. Selamat sekali lagi bagi mereka yang terhindar dari penyakit riya lagi sombong. Bagi saya pribadi sungguh sulit hadir dengan branding-branding itu. Walau ada yang bilang sambil belajar, tapi yah saat bertanya lagi pada hati kecil, hati pun bantu menjawab, “Dekat dengan riya, sombong, jauh dari ketenangan hati.”

Sebelum perbincangan itu terjadi saya sudah menghapus segala embel-embel yang ada, yang pada umumnya saya taruh di media sosial. Nyaman, tenang, damai, lega. Itu yang saya rasakan. Tapi entah kenapa, lebih kurang seminggu berselang, saya justru menjilat air ludah saya sendiri, hehe. Tapi tidak sepenuhnya demikian juga. Berawal dari beberapa bulan terakhir saya merasa iman saya drop. Perubahan-perubahan dalam hidup yang membuat saya masih saja sulit beradaptasi, membuat saya mengalami kemunduran-kemunduran dalam hidup. Sering cemberut, mengeluh, berfikir negatif…. Huft…. Ck…ck…ck…. (maafkan akuh suamikuh 🙂 Walhasil, membuat saya berpikir ulang, memuhasabah diri, “Sampai kapan saya akan seperti ini.”

Akhirnya teringat perbincangan malam itu, saya ingat kalau saya pernah berkata pada teman saya, “Mana ada orang bikin di bio, shalihah, atau pengen jadi shalihah.” Dan eng.. ing.. eng…. Itulah yang terjadi saat ini. Di media sosial, BBM, blog ini, dll., sukses saya ukir dengan tulisan, “SHALIHAH WANNA BE.” Ajaib sih, setiap kali saya mulai cemberut, atau mengeluh, atau atau lainnya, langsung terbesit di dalam hati, “Katanya mau shalihah. Ummi Shalihah bagi Khansa n d’gank, Istri Shalihah buat suami, Anak Shalihah bagi orangtua dan mertua.”

Image

Tapi yang perlu digaris bawahi adalah #ShalihahWannabe itu semacam impian, yang hampir semua muslimah di dunia ini ingin capai. Tidak langsung mencap diri, dengan begitu membuat diri ingin selalu belajar,  tidak berpuas diri, selalu berusaha memperbaiki diri, menuju cita-cita Rabbani, #ShalihahWannabe. Aamiin….

Advertisements

One thought on “Eh? #ShalihahWannabe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s