MEMBACA SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN DIRI DAN WAWASAN

Habis ngutak-ngatik blog, capek juga ternyata.. Walhasil bingung mau nulis apa. Efek nunda-nunda juga nih. Jadinya euforia berkurang dan pastinya ingatan pun tak sesegar di awal. Hm.. tapi tenang, saya menemukan tulisan yang cemerlang tentang membaca yang saya comot dari Annida-online. Selamat membaca!

Penulis: Deki Zett

Budaya membaca mungkin masih terdengar asing di negeri ini. Jangankan membaca, menyentuh buku pun jarang. Hanya segelintir kelompok manusia saja di Indonesia ini yang melakukannya, seperti: mahasiswa, akademisi, dan ilmuwan. Itu pun membacanya jika ada “keperluan” saja. Dan jika kaum intelektualnya saja seperti itu, lantas bagaimana dengan para buruh, petani, nelayan, ibu rumah tangga, pedagang, pembantu, pengangguran dan lainnya? Yang mendengar nama buku saja sudah memusingkan.

Memang tak bisa dipungkiri, budaya membaca masih belum familiar di negeri ini, lebih-lebih pada masyarakat pedesaan, yang notabene jauh dari fasilitas pendidikan, perekonomian, dan pemerintahan.

Di negara maju seperti AS, Prancis, Jerman, Jepang, Inggris dan beberapa negara maju lainnya, budaya membaca hampir melingkupi seluruh lapisan masyarakatnya. Bahkan pedagang, buruh, penari, tukang semir sepatu, pengangguran, semuanya gemar membaca. Dengan membacalah mereka mengisi waktu kosongnya. Hal ini lebih-lebih di kalangan para intelektualnya seperti: akademisi, birokrat dan mahasiswa.

Kebiasaan ini (baca: budaya membaca) juga sering kita jumpai secara langsung ataupun hanya melihat di televisi. Dimana para backpacker ataupun wisatawan-wisatawan bule yang berkunjung ke negara kita, di waktu lowongnya mereka mengisi dengan membaca. Berjalan pun ada yang sambil membaca. Tidak lupa mereka biasanya membawa paling tidak mini book(buku kecil) yang bisa diselipkan di kantong celana atau dimasukkan dalam ransel. Bahkan pernah penulis diberitahu seorang teman, ada wisatawan yang berjemur di pantai dari siang hari hingga menjelang maghrib sambil membaca buku yang dibawanya. Luar biasa!

Alvin Tofler, salah satu futurology (pakar tentang masa depan) yang terkenal pada era 1980-an, menyatakan bahwa orang yang berjaya saat ini adalah mereka yang mampu menguasai informasi. Informasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang suatu hal. Atau dengan kata lain, orang yang berjaya saat ini adalah orang yang sering atau gemar membaca.

Tak diragukan lagi, pendapat Tofler tersebut memang benar adanya. Contoh, sehebat-hebatnya orang seperti Bill Gates, jika ia hanya mengikuti “kemauannya” sendiri tanpa membaca, menggali informasi tentang komputer, menggali gagasan-gagasan orang lain, mengikuti perkembangan informasi, Microsoft dapat dipastikan tak sejaya seperti sekarang ini. Contoh lain, sejenius-sejeniusnya Einstein, jika hanya berdiam diri memecahkan masalah fisika tingkat tinggi tanpa membaca buku-buku yang berkaitan dengan fisika, tanpa menggali informasi yang berkaitan dengan penelitiannya, dan tanpa mengamati hasil penelitianpara pendahulunya, dipastikan E= mctak akan pernah ada.

Kata Rene Descartes, seorang matematikawan dari Prancis, “membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau, yakni para penulis buku itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan terbaiknya semata.”

Jika menilik dari sudut pandang islam, seharusnya kita sebagai umat islam merasa malu dengan rendahnya semangat membaca dalam diri tiap kita. Bukankah surat yang kali pertama turun adalah perintah untuk membaca?!

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” [Q.S. Al-‘Alaq : 1]

Rasululloh, nabi Muhammad SAW. pun sangat memperhatikan pentingnya membaca. Dalam satu riwayat, ketika para tawanan yahudi yang ingin dibebaskan, maka mereka diharuskan mengajarkan sepuluh anak-anak muslim untuk belajar baca-tulis. Dengan demikian, itu adalah tebusan bagi para tahanan yahudi pada saat itu.

Pada masa kejayaan islam di era dinasti Abassiyah dan Utsmaniyah, ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang amat gemilang. Islam pada masa itu sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Ini terlihat dari munculnya para cendikiawan muslim yang menonjol dalam bidang tertentu. Contoh saja dalam bidang ilmu agama, ada Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari, Ibnu Qoyyim, Imam Al-Ghazali. Dalam bidang kedokteran ada Ibnu Sina atau atau di barat dikenal dengan nama Avicenna. Di bidang sastra ada Abu ‘Uthman ‘Umar bin Bahr al-Jahiz (776 M – 869 M), juga ada Abu Nuwas yang lebih kita kenal dengan sebutan Abu Nawas.

Ini semua karena pada waktu itu pemerintah mencanangkan sebuah gerakan revolusi dalam mengkaji, membaca, meneliti karya-karya dari naskah atau manuskrip para pendahulu mereka. Baik dari para ilmuwan Yunani ataupun dari sumber islam yang mutakhir, yakni Al-Qur’anul karim.

Kembali melihat sedikit sejarah tempo dulu. Konon pada saat perang salib yang pada waktu itu Andalusia jatuh ke tangan pasukan salib, sungguh mencengangkan ketika para pasukan salib menjadikan kitab-kitab karya para ilmuwan muslim sebagai jembatan untuk melewati sungai. Hal ini mengisyaratkan bahwa begitu banyaknya buku-buku pada masa itu yang telah umat islam hasilkan. Belum lagi kitab-kitab yang dibakar dan dijarah pasukan salib yang dalam hal ini untuk mereka kaji sendiri.

Lantas kemana kini semangat membaca itu? Ironis memang. Dimana seharusnya umat islam yang Alloh telah perintahkan untuk membaca, namun kenyataannya kini justru terbalik. Budaya membaca atau yang kita sebut dengan baca-tulis, di negara-negara maju sangat diperhatikan. Contoh kecil saja di Jepang, hadiah ulang tahun yang sebenarnya adalah ketika mereka dihadiahi buku, bukan cincin, gelang, emas, paket liburan, coklat, atau pun ha-hal yang berlebihan lainnya.

Menurut data, negara dengan tingkat produktivitas membaca paling tinggi adalah Jepang, dimana rata-rata dalam satu hari mereka mampu menyelesaikan dua sampai tiga buku. Disusul selanjutnya oleh Amerika dan Eropa. Data juga menyebutkan di negara seperti Arab Saudi, rata-rata penduduknya hanya membaca beberapa lembar saja perminggu.

Bagaimana dengan Indonesia? Hmmm, tak heranlah jika kita jauh tertinggal dengan mereka. Wawasan dan ilmu pengetahuan mereka lebih-lebih dibandingkan kita. Analoginya, ketika kita baru mengetahui adanya kalkulator, mereka sudah mengenal yang namanya komputer.

Untuk itu, marilah kita budayakan semangat membaca sejak dini. Tentunya juga dengan turut mendukung program-program yang telah dan akan dicanangkan pemerintah. Karena membaca adalah ciri dari masyarakat berperdaban maju. Ketertinggalan kita dari bangsa-bangsa lain, insya Alloh bisa kita kejar jika di masyarakat telah tertanam budaya baca-tulis.

Ayo MEMBACA!

Source:

http://www.annida-online.com/artikel-4526-MEMBACA%20SEBAGAI%20MEDIA%20PENGEMBANGAN%20DIRI%20DAN%20WAWASAN.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s