Menjadi Seorang Interviewee

Dulu, sekian lama kuliah di psikologi, ga pernah dink jadi testee maupun interviewee. Yang ada jadi tester, observer, interviewer. Entah kenapa, mungkin sudah suratan takdir (Eheh, maaf edisi lebhay kluar lagi). Tapi beberapa bulan yang lalu…. Jreng.. jreng.. jreng.. Saya diperkenankan untuk menjadi seorang interviewee. Yang jadi interviewernya adalah teman saya semasa kuliah dulu, yang menyambung kuliah di unisba. Esdua nih critanya….

Nah tadi jadi interviewee lagi, tapi buat temennya temen. Setelah interview selesai, rada lega. Soalnya pake curcol sagala, hehehe… Lumayan plong.. tapi saya kasian sama temennya temen saya itu. Kenapa? Saat saya menjawab pertanyaan yang ia ajukan, bak filusuf, saya lama merenung baru kemudian menjawabnya. Sepatah, dua patah, tiga patah kata. Bergumam, mm… atau berkata, “Gimana yah?” Sungguh malang nian. Dengan waktu yang dibatasi, sungguh pengalaman buruk (barangkali) buat dia. Terimakasih ya Anggi udah denger curcol saya.. dan maaf saya sudah menjadi bagian dari pengalaman yang kurang menyenangkan di hari kamis nan pilu bagimu (halah, interpretasi pribadi). See u soon Anggi.. mumpung lagi berasa artis, saya persilahkan wawancara tambahan (jleb).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s