Bersyukur

Jika kita ditanya, sudahkah kita bersyukur hari ini? Maka jawabanya bisa jadi sudah. Jika ditanya lagi, apa syukur kita hari ini? Mungkin kening sedikit mulai mengkerut. Hm… apa ya?

Begitulah. Menurut salah satu guru saya Kang Helmy, beliau mengatakan bahwa bersyukur itu penting dan terkandang harus dilebay-lebaykan. Karena dengan adanya rasa syukur itu, membuat hidup kita jauh lebih nyaman, bahagia dan bermakna. Syukur lebay ini menjadi tradisi kami saat mengikuti coaching class beliau.

Awalnya saya termasuk kategori yang bingung mengungkapkan rasa syukur. Yah, paling standar-standar saja. Tapi meski standar, nilainya ternyata luar biasa lho! Sungguh nikmat jika bisa bersyukur. Pertemuan demi pertemuan membuat saya kemudian lebih gampang mengungkapkan rasa syukur.

Apalagi setelah mengikuti sesi merasakan impian dengan lebih dekat. Salah satu impian saya adalah ingin menjadi trainer. Ketika Kang Helmy mengatakan, “Terimakasih mulut….” Yang intinya adalah mengingatkan saya, “sudahkah saya bersyukur memiliki mulut.” Ah… betapa selama ini saya berkutat dengan masa lalu saya. Membiarkan diri saya melabel diri sebagai seorang yang memiliki ‘masa lalu’, dimana ‘masa lalu’ itu menjadi faktor utama belum bisanya saya berkomunikasi dengan baik.

Saya menangis. Menangis karena lupa bahwa saya memiliki mulut yang sempurna dan bisa berbicara. Lupa bahwa dengan memaksimalkannya saya bisa menginspirasi dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Saya langsung beristighfar, memohon ampun pada Allah.

Pulang dari coaching class, saya bertekad, minggu ini saya akan action jadi trainer. Kamis dini hari saya memutuskan untuk bangun tahajud. Setelah tahajud, bismillah, saya sms rekan saya Adit. “Dit, kita action Jum’at berani ga? Kalo Adit bersedia, berarti Adit membantu uni menggapai salah satu impian uni….” (Malah nantangin, hehe….).

Shona Vitrilia

Paginya Adit menyatakan kesediaanya. Alhamdulillah… kesediaan Adit membuat semangat saya menggebu-gebu luar biasa. Meski ada perasaan ingin mundur, tapi saya selalu berdo’a, “Allah…. Izinkan hamba bersyukur atas nikmat mulut yang telah Engkau berikan….” Alhamdulillah, setelah berdo’a saya merasakan energi yang luar biasa.

Dan…. Jum’at itu datang. Meski peserta hanya 2 orang, tapi saya bisa tampil, berbagi dan menginspirasi, itu sudah membuat saya sangat sangat sangat bersyukur. Alhamdulillah. Walaupun belum optimal, saya meyakini bahwa kesuksesan itu tergantung alat ukur apa yang kita pakai. Dan alat ukur yang saya pakai adalah “Kesuksesan seseorang bukan dilihat dari bagaimana dirinya dengan orang lain, tapi bagaimana dirinya saat ini dengan dirinya di hari kemarin (masa lalu).” Dan setelahnya… timbul keyakinan, bahwa ke depan hanya masalah jam terbang. Pembiasaan, InsyaAllah.

Bismillah… saya akan menjadi trainer Nasional, dan saya sudah bisa merasakannya 🙂 Amiiin….

 

Advertisements

4 thoughts on “Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s