Trainer Akhawat Perindu Surga

Hm…. Siang tadi saya di tag oleh salah satu teman di facebook. Ada lowongan menarik. Jadi trainer cuy…. Judulnya dari dulu kepengen, tapi mengingat dan menimbang saya tidak terlalu bagus dalam berkomunikasi, jadinya engga terlalu berharap. Meski demikian, jadi trainer tetep nangkring di dalam daftar mimpi-mimpi saya.
Bulan lalu saya juga melihat ada lowongan yang sama dan nantinya bakal dilatih selama tiga bulan lamanya. Tapi saya pikir barangkali belum saatnya. Apalagi saat ini saya masih dihadapkan pada keadaan dimana saya masih dipanggil-panggil kota Padang (geer itu penting :). Padahal CV yang diminta sudah saya print. Tinggal diantar ke kantornya saja.
Apa mau dikata. Berita itu datang lagi. Saya pikir ini bukan sekedar kebetulan. Apasalahnya jika saya mencoba. Soal diterima atau tidak, itu urusan nanti. Betul ga? 

Tapi yang jadi permasalahan sekarang adalah tekhnik komunikasi saya. Suddenly, saya teringat sebuah kisah di masa lalu (Ehem…). Kira-kira dari kelas tiga SD saya mulai phobia dengan angin kencang (*baca badai). Setiap angin kencang berhembus, jika pagi/siang/sore, saya akan tiarap di dekat mama, lalu menggigil ketakutan. Jika malam/sudah tidur, saya akan menggedor-gedor pintu kamar orang tua saya dan memilih untuk tidur bersempit-sempitan bersama mereka. Kalau sudah reda, saya kemabali lagi ke kamar saya. 😀

Phobia saya berlanjut hingga SMA. Namun hal tersebut tidak saya biarkan terus-menerus menggerogoti diri saya. Akhirnya setiap kali angin kencang berhembus saya memutuskan untuk melawannya. Bukan dengan pedang, bukan pula dengan pistol. Hanya memberanikan diri untuk tetap berada di luar rumah. Istilah psikologinya flooding atau pembanjiran. Hebat ya saya, belum belajar ilmu psikologi udah bisa nerapin tekhnik terapinya, masih SMA pula (sedikit takjub sama diri sendiri). :p Akhirnya si phobia semakin lama semakin menghilang.
Lalu apa hubungannya sama pembahasan jadi trainer? Ada dong. Kalau lah saya bisa menantang angin dan kemudian phobia saya menjadi hilang. Tentu hal ini juga berlaku dengan belum bagusnya teknik berkomunikasi saya. Jika saya selalu menghindar, saya tidak akan pernah bisa menjadi pembicara yang baik. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengirimkan CV saya dan mengikuti wawancara dengan pihak lembaga training. Sekali lagi, urusan diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, saya tidak menghindar. Semangat!!! ^o^)/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s