Mungkin Ada Masanya (FF0001)

Setelah selesai mencuci piring, Miftah menunggu Isya sembari membaca Al-qur’an. Adzan Isya pun berkumandang. Ia bergegas menuju Mesjid. Saat membuka pintu kakinya terhenti melangkah. Ini kali keenam kakinya terhenti di depan pintu, dan kemudian menoleh ke belakang.

“Mungkin ada masanya.” katanya pelan.

Tidak sampai 5 menit, Miftah sudah tiba di Mesjid. Mesjid sangat ramai dan di antara keramaian ini ia berharap ada sosok itu. Tapi, mungkin belum saat ini.

Hari kesepuluh Miftah masih melakukan hal yang sama. Sudah seperti ritual saja. Menoleh ke belakang, ke arah pintu yang sama dan mengucapkan kata yang sama pula. Setelah menguci pintu rumah, pintu kamar yang ia pandangi pelan-pelan terbuka. Ada seseorang yang ingin diajak, tapi ia malu mengutarakannya.

“Kenapa tak kau ajak aku tarawehan dik?”

Miftah sangat ingin mengajak seseorang yang berada di balik pintu itu. Tapi lidahnya kelu. Bertahun-tahun hasilnya sama saja.

Saat Miftah berada di Mesjid, kakaknya berada di jalan bersama geng motornya. Pada hari itu, terakhir kalinya ia berkata, “Kenapa tak kau ajak aku dik?” ucapnya saat tergolek bersimbah darah di tepi jalan, di depan sebuah Mushalla yang dipadati jama’ah yang sedang melaksanakan shalat tarawih.

Advertisements

2 thoughts on “Mungkin Ada Masanya (FF0001)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s