Buah dari Gramedia

Eits… Jangan keburu heran dulu. Sejak kapan toko buku Gramedia jual buah? He… Kalau anda heran, saya lebih heran lagi. Jelas-jelas TOKO BUKU! Hm… baiklah, akan saya jelaskan. Kemarin sepulang dari kampus, saya singgah ke GM alias Gramedia dahulu karena sudah lama tak memanjakan mata dengan buku. Ide ini datangnya juga tidak dengan tiba-tiba. Kemarinnya lagi, salah satu dosen saya ingin meminjam buku. Tapi sayangnya buku (Negeri 5 Menara) yang ingin beliau pinjam saya tinggalkan di Bandung, rumah kedua saya.  Intinya, saat bu dosen pengen pinjam buku, saya tersadar dari tidur panjang saya (hi… lebay…. ). Tersadar bahwa sudah cukup lama tak membeli dan membaca buku. Maka semakin besarlah keinginan saya hendak membeli buku (padahal beberapa buku lain yang saya punya belum khatam, hiks).

Sesampainya di GM, bersama dengan salah seorang teman saya Dwi, kami mengitari rak per rak mencari buku yang menarik hati. Teman saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada buku tips n trik mengerjakan TOEFL dan saya masih sibuk menimbang-nimbang. Kira-kira sekilo berapa ya? Wkwkwk… (sepertinya salah toko. Ngidam buah kok ke GM?). Ya, begitulah saya. Seringkali harus bingung terlebih dahulu jika hendak membeli buku. (Kenapa? Oh teman, ku katakan padamu, semua buku ini sungguh menarik!) Setelah bingung dengan kebingungan sendiri, saya menjatuhkan pilihan pada Bumi Cinta, adikarya novelis Habiburrahman El Shirazhy. Sebenarnya novel ini sudah lama membuat saya jatuh cinta. Hanya saja saat itu saya dihadapkan lagi pada pilihan. Bumi Cinta atau Emak Ingin Naik Haji karya Asma Nadia. Mempertimbangkan stabilitas dompet saat itu, akhirnya buku Emak Ingin Naik Haji saya kantongi dan bawa pulang (bukan nguntil lho ya? maksudnya dikasih kantong sama kasirnya terus saya bawa pulang).

Nah, mantap meminang Bumi Cinta, selanjutnya saya melakukan ritual (bukan pake kembang tujuh rupa terus komat-kamit). Ritual ini saya dapatkan dari salah satu teman kuliah saya (Makasi Ren). Ritual memeriksa kedua ujung buku, melihat bentuk lemnya. Bukan untuk menentukan merk lem apa yang dipakai, tapi kondisinya berongga atau tidak. Maka, sibuklah saya memeriksa satu per satu. Melihat perilaku saya sedikit aneh, tanpa ditanyai, saya segera menjelaskan kepada teman saya kenapa saya berperilaku seperti itu. Akhirnya si teman ikut membantu saya dalam rangka menjukirbalikan buku (Syukran Dwi). Pekerjaan ini mungkin sedikit aneh. Tapi memang terbukti lho! Buku-buku saya jadi lebih awet, engga pake copot-copot.

Ritual yang saya dan teman saya jalani ini akhirnya menemukan labuhannya dan segera menyeret langkah kami  ke mbak titut titut serrr (kasir maksudnya). Bayar dan kemudian pulang. Sesampai di rumah saya melepaskan baju si buku (plastik pembungkus). Sumringah melukis wajah (Vitamin C), mata berbinar cerah (Vitamin A). Hm… Sepertinya buku tidak kalah dengan buah. Lho? Selamat membaca! Slup… Slup….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s