Terkubur Sembari Bersujud Memeluk Al-Qur’an

Jum’at, 9 Oktober 2009.
Sejak kamis sore kami sudah sampai di Pauah Kamba, Pariaman. Hingga malam, waktu kami habiskan untuk membantu mengepak logistik yang akan dibagikan ke korban bencana, sembari menunggu rekan-rekan dari Bukittinggi yang baru datang pada malam harinya.

Sebelum Subuh kami sudah bersiap-siap. Berangkat sesegeranya dan berniat melaksanakan shalat subuh di jalan. Kami menaiki mobil pick up. Aku sibuk menutupi hidung dan mulutku dengan topi sweater, karena Aku baru saja sembuh dari demam. Jika tidak ditutup, angin Subuh bisa membuatku batuk-batuk. Baru jalan beberapa meter, adzan berkumandang. Kami berhenti di sebuah Mesjid. Setelah shalat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak ditemani oleh redup-terangnya lampu jalanan dan perumahan, karena listrik masih padam. Tak luput pula pandanganku melihat atap-atap rumah yang mencium tanah. Tanah merah mengambil alih, mendominasi pemandangan perbukitan dan tepi jalan yang biasanya berwarna hijau. Jalan-jalan retak. Tak ayal, mobil kami seringkali berjalan perlahan, melewati jalan yang keadaanya tak lagi rata. Pembatas jalan pun telah anjlok dimakan jurang. Miris hati ini melihat. Apalagi melihat sekolah-sekolah tak lagi utuh seperti biasanya.

Sesampainya di Padang Alai kami segera menemui tim sekolah rakyat yang berasal dari Jakarta. Kami turun di daerah gempa sebagai anggota tim trauma healing untuk anak-anak. Sewaktu kami berada di dalam kelas yang keadaannya masih bisa dipakai, seseorang menghampiri kami. Ternyata beliau relawan dari perusahaan Kaltim. Ia seorang dokter. Ia sempat terjun untuk mencari korban. Pembicaraan awal seputar pengenalan diri masing-masing. Hingga sampailah di pertanyaan yang jawabannya membuat kami terpana.

Ia pun bercerita. “Sewaktu Saya dan teman-teman mencari korban di daerah atas sana, kalau tidak salah namanya Koto Tinggi. Kami menemukan sebuah keajaiban. Mungkin Allah ingin menunjukkan kuasa-Nya pada kami. Waktu itu Saya mencium bau bangkai. Menyengat sekali. Kami segera menggali dan ternyata yang kami temukan seekor binatang. Tapi entah kenapa setelah selesai, Saya masih memiliki firasat kalau masih ada mayat di sana.”

“Akhirnya Saya tidak menghiraukannya dan kemudian mencari lokasi lain. Setelah sampai di lokasi yang tidak berjauhan dari lokasi semula, Saya masih tetap memiliki firasat itu. Saya memutuskan untuk kembali ke lokasi awal. Saya masih ingat tempatnya di mana karena Saya sudah menandai ada sebuah batu di dekat sana. Akhirnya Saya dan teman-teman menggali longsoran tanah itu, memang benar, ternyata ada mayat. Mayat itu berada dalam posisi sujud sembari memegang Al-Qu’ran di kedua tangannya dan tidak berbau sama sekali. Padahal sudah tiga hari, seharusnya sudah bau. Binatang yang saya temukan saja baunya sudah menyengat”. Seketika bulu romaku berdiri. Subhannallah… aku tak pernah membayangkan akan memperoleh cerita seperti ini.

Sabtu, 10 Oktober 2009.
Di sini kami menemukan banyak relawan. Ada relawan dari perusahaan yang berasal dari Kalimantan Timur, Mahasiswa dari Institut Teknologi Medan, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand, dan masih banyak lagi. Ada yang berfokus pada batuan logistik, bantuan medis, dan bantuan psikologis.

Bantuan psikologislah yang bisa kami berikan. Kami kembali bermain, menonton film, dan membaca buku cerita di tenda. Hingga hubungan kami pun kian dekat. Sehingga diketahuilah ada anak bernama Nando yang diklaim teman-temannya sebagai artis Padang Alai. Ia sering di undang ke acara-acara pernikahan untuk bersenandung. Ada pula Rizki yang jago ngaji yang sering menang MTQ. Lain pula halnya dengan Nia. Siswi kelas 6 SD yang tomboy tapi manis, jago berteriak. Belum lagi si kembar Dea dan Dian yang hobi bergelantung. Winda siswi kelas 3 SD yang pendiam namun penuh kejutan. Dan masih banyak lagi.

Sayang, karena ada sesuatu hal, saya harus kembali ke Padang. Tetapi, ini akan menjadi cerita yang terus berkesan di hati kami. Shona Vitrilia.

Dimuat Majalah Girlie Zone edisi 9/ November – Desember 2009.

Advertisements

4 thoughts on “Terkubur Sembari Bersujud Memeluk Al-Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s