Munchausen By Proxy Syndrome?

Terdapat banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga. Mulai dari suami pada isteri hingga ayah atau ibu pada anak. Perlakuan tersebut tidak hanya memberikan efek negatif pada fisik anak, akan tetapi juga pada perkembangan psikisnya. Efek psikis yang ditunjukkan oleh anak adalah seperti syndrome stockholm yang digambarkan oleh Patty Hearst dalam novel kisah nyata yang berjudul sickened yang ditulis oleh Julie Gregory, dimana anak-anak seringkali melindungi para penyiksanya dan tidak mau mengungkapkan kepada petugas medis dan pekerja sosial yang dapat menyelamatkan mereka. Salah satu bentuk penyiksaan pada anak adalah Munchausen By Proxy.

Dalam websitenya, en.wikipedia.org menuliskan, Munchausen By Proxy Syndrome adalah gangguan psikiatrik, dimana penderita dipengaruhi trauma psikologis atau penyakit, dalam rangka memperoleh simpati. Pelakunya menciptakan gejala-gejala penyakit dan kenyamanan dari orang-orang medis. Mereka memiliki pengetahuan yang banyak tentang ilmu kedokteran dan mampu memunculkan gejala-gejala yang membutuhkan operasi kompleks yang tidak perlu, contohnya mereka memasukkan materi-materi yang dapat menginfeksi secara sistematik ke dalam tubuh dengan cara menginjeksi vena, sehingga tidak diketahui asal infeksi. Gangguan ini dalam e-psikologi.com, biasanya dialami oleh wanita, dalam hal ini seorang ibu terhadap anaknya (biasanya pada bayi atau anak-anak di bawah usia 6 tahun) dan biasanya berakibat sang anak harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit. Dalam kasus ini terdeteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari. Pada kasus yang parah, seorang anak secara terus menerus dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan jiwanya dan sang ibu yang melakukan dari luar justru kelihatan lemah lembut dan tulus. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anaknya karena pada banyak kasus ditemukan bahwa sang ibu sampai hati menyekap atau bahkan mencekik dan meracuni anaknya sebagai bukti pada dokter bahwa anaknya benar-benar sakit.

Pelaku MBP ini dapat digolongkan ke dalam tiga jenis utama (Libow dan Schreir, 1986; dalam hikmatul-iman.com). Pertama, Help seekers; yang melakukan langkah medis sebagai bahasa non verbal untuk menyampaikan ketertekanan psikis, impitan financial, dan kejerihan mereka dalam mengasuh anak. Kedua, Active inducers; menstimulasi penyakit pada anak dengan metode-metode ekstrem. Pelaku kerap memperagakan kecemasan, depresi, pengingkaran, disasosiasi afeksi dan pandangan paranoid. Metode ekstrem diterapkan sebagai tantangan terhadap praktisi medis guna mengendalikan treatment dokter, sekaligus mendapatkan pengakuan atas kemampuannya mengelola penderitaan yang menimpa anak-anaknya. Ketiga, Docter addict; obsesi pengidap MBP tipe ini adalah mendapatkan treatment medis atas keberadaan penyakit anak-anak yang sebenarnya tidak eksis sama sekali. Bersikukuh anaknya benar-benar sakit, pelaku mengkritisi tajam diagnosis uji laboraturium dan diagnosis dokter. Sembari berpindah dari satu dokter ke dokter lain, pelaku juga mempraktekkan teknik treatment-nya sendiri terhadap korbannya.

Adapun penyebab terjadinya MBPS adalah dikarenakan orang tua (ibu) mengalami kelainan fisik dan sex. Mereka berasal dari keluarga yang dengan cara berperilaku sakit akan memperoleh perhatian (cinta). Oleh karena itu pelaku menganggap dirinya sama halnya dengan dirinya. Selain itu, secara teori MBPS adalah suatu teriakan atau tangisan orang tua yang mengalami kecemasan atau depresi sebagai orang tua atau sebagai pengasuh anak-anak mereka yang masih kecil. Berdasarkan American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (edisi ke-4), beberapa kondisi dan gejala yang biasanya dilakukan pelaku adalah alergi, asma, muntah, diare, dan infeksi.

Diagnosis dari sindrom ini sangat sulit diidentifikasi, akan tetapi ada beberapa hal yang berhubungan. Dalam kidshealth.org, Pertama, seorang dengan masalah medis yang kompleks dimana tidak ada respon dari terapi yang telah diberikan atau adanya temuan labor atau fisik yang persisten dan tidak biasa, tidak berhubungan dengan masalah medis anak. Kedua, orang tua yang tidak senang saat hasil tes mengatakan tidak ada masalah medis, tapi malah tetap percaya bahwa anaknya sakit. Ketiga, orang tua yang menunjukkan pengetahuan medis atau ketertarikkan dengan masalah medis secara detail atau kesenangannya terhadap lingkungan rumah sakit. Keempat, orang tua tidak bisa tenang dalam berhadapan dengan kesulitan yang serius dengan kesehatan anaknya. Kelima, orang tua yang sangat mendukung dan mendorong dokter atau siapapun yang marah dan butuh tindakan lebih lanjut, prosedur yang lebih, atau perpindahan fasilitas yang lebih lengkap.

Diperkirakan di Amerika Serikat (dalam Sickened, 2005), terdapat 1200 kasus MBP yang dilaporkan setiap tahunnya, dan terdapat juga kasus serupa dengan jumlah yang sebanding di Negara-negara lainnya. Akan tetapi sebetulnya lebih banyak lagi kasus yang tidak dilaporkan dan sama sekali tidak terdeteksi akibat sifat tertutup dari penyiksaan tersebut. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa bila akhirnya sebuah kasus MBP ditemukan, biasanya sampai 25% dari jumlah saudara kandung dari anak yang menjadi korban itu telah meninggal dunia-kemungkinan besar mereka dahulunya adalah korban-korban si pelaku. Jika di Amerika begitu banyak terdapat kasus ini, bagaimana dengan di Indonesia? Penyebab adanya perbedaan budaya dapat memungkinkan tidak mencuatnya kasus ini di Indonesia, yang mungkin saja ada namun tidak terdeteksi keberadaannya, atau dikarenakan masyarakat Indonesia yang masih memegang nilai-nilai, serta norma-norma agama? Wallahu’alam. (Shona Ve)

Advertisements

9 thoughts on “Munchausen By Proxy Syndrome?

  1. hmmm…MBP…? jd ingat ma penelitian saya dl, tentang MBP. penelitian itu gugur coz ada 1 kekurangan, kasus dalam negerinya susah di cari, yang sebenarnya pasti ada kasus MBP di Indonesia cuma memang belum terungkap. kl ada kasus bout MBPS di Indonesia, saya harap saudara berkenan memberitahukan pada saya…
    terimakasih.

    1. wah.. ternyata qt mengalami hal yang serupa. artikel ini saya rangkum dari proposal psikologi klinis saya.
      awalnya memang berharap proposal ini dapat dilanjutkan untuk skripsi.. namun tidak jadi karena permasalahan yang sama. yah, susah di cari dan sulit untuk diungkap.

      salam kenal..

  2. aku pernah baca buku ini.
    rasanya mati..
    ga ada sisi dramatisnya
    padahal ini kisah nyata yang jarang terjadi.
    karena selama ini sosok ibu di mata setiap orang itu sangat mulia.
    dengan membca buku ini,
    aku jadi tahu, kalau di luar sana ada kasus tentang seorang ibu yang sengaja nyiksa anaknnya supaya sakit,
    untuk mendapat simpati dari orang.
    tapi, sayang banget
    kasus di dalam negeri belum ada yang terungkap
    padahal aku yakin, dengan melihat kondisi rakyat indonesia yang ekonominya menengah ke bawah,
    pasti banyak kasus penyiksaan dari ibu ke anaknya..

    1. buku yg mana mbak? sickned y? bukuny lumayan.. krn ga semua korban kekerasan psikologis mampu menulis dg konflik yg dramtis seprti halnya dave pelzer (the lost boy) mgkn atau rumah kaca (dona wiliams) dan msh byk lg. yup rsny qt spkt dg adny kisah nyata yg dtulis olh si korban yakni julie gregory membuat qt mjd tau n bs memahami bhw byk kejahatan psikologis spt ini yg sbny mgkn ad di ina nmn syg blm terungkp.

  3. Mau nanya mbk, saya lagi cari buku tentang syndrom munchausen by proxy untuk rujukan penelitian saya, tapi sejauh ini saya cari ga ada, ada bukunya monty p satiadarma yang judulnya pura-pura sakit tapi sekrang sudah tidak ada, mungkin karna kasus ini jarang terjadi di Indonesia atau apalah jadi buku tersebut kurang diminta, kalau mbk Shona punya rekomendasi buku tantang sindrom ini tolong kasih info ya, berbahasa inggris juga g papa, nanti bisa diterjemahkan k penerjemah..

    1. saya bikin artikel ini th 2008 mba 🙂 terakhir berhubungan dengan mbps ya th 2008. th 2008 itu data-data yang saya peroleh hanya dari jurnal asing dan artikel di internet, begitu mba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s