Kereta Mau Tuk Tuk, Awas Ketinggalan Kereta!

Pagi ini tanggal 18 Agustus 2008, saya bersiap-siap hendak berangkat ke kota Pariaman menaiki kereta api wisata dalam rangka kegiatan wisata menulis bersama Forum Lingkar Pena Sumatera Barat. Ketika jam menunjukkan pukul 07.55 WIB, bang Mardinata ketua FLP SUMBAR meng-sms saya, “kereta mau tuk tuk awas ketinggalan kereta.” Singkat memang, tapi dapat membuat saya lebih cepat bergerak merapikan jilbab dan segera memasang kaus kaki. Saya pun berangkat, setelah berpamitan dengan kedua orang tua saya. Sesampainya di stasiun, ternyata selain bang Mardinata yang akrab dipanggil bang Madi, bang Fauzul, bang Momon, dan kak Cici sudah sampai duluan. Tak berapa lama setelah saya, datang pula kak Yanti dan Ali. Ternyata banyak dari rekan-rekan FLP yang tidak bisa pergi karena sakit. Kami harus segera naik kereta, karena kereta akan berangkat. Saya sangat antusias dengan perjalanan ini, karena saya berharap dapat mengenal lebih dekat rekan-rekan FLP.

Pembicaraan di atas kereta saya awali dengan beberapa pertanyaan pada kak Cici yang duduk di sebelah saya dan pada kak Yanti yang duduk di depan saya. Kami pun tuker-tukeran nomor hp. Pada saat kereta berhenti di stasiun Tabing, kak Ipat muncul. Naik dari stasiun ini beliau rupanya. Sepanjang perjalanan kami membicarakan banyak hal, seru pastinya.

 

Kegiatannya apa aj ya? yup, namanya saja sudah jelas, wisata menulis yang sudah barang tentu kami berwisata sambil menulis. Sesampainya di sana, kami disambut oleh gerbang yang bertuliskan “Selamat Datang di Pantai Gondoriah.” Duduk di tepi pantai beralaskan karpet plastik seharga Rp. 15.000, tidak gratis memang. Ternyata hamparan pasir yang terbentang dari ujung ke ujung ditumbuhi tanaman bernama sampah. Apa benar tempat wisata identik dengan sampahnya? piz!

Kak Cici, kak Yanti, kak Ipat dan saya sempat mencicipi makanan khas Pariaman, apalagi kalau bukan sala lauak. Bang Madi menginstruksikan kami untuk membuat karya, apakah itu cerpen ataupun puisi. Dalam karya tersebut harus ada kata-kata kereta api, pasir, dan pantai. Setelah shalat dzuhur karya-karya tersebut akan ditagih tentunya dan harus dibacakan, wah saya bakalan krisis pede lagi nih. Bagaimana tidak, si pemula di tengah manusia-manusia penuh karya.

Setelah shalat dzuhur karya-karya mulai dibacakan. Ali ternyata menyelesaikan dua buah puisi, keren tentunya. Bang Fauzul? Wah karya-karya beliau enggak perlu diragukan lagi. Puisi-puisi beliau sudah banyak dimuat di berbagai media lokal maupun nasional. Salut deh buat sekjen FLP SUMBAR yang satu ini. Akhirnya sampai juga giliran saya. Mau tidak mau harus membacakan karya saya, puisi yang simple, biasa dan belum sebanding dengan karya-karya mereka. Setelah pembacaan karya, kami beralih ke acara diskusi dan sharing. Di awali oleh Ali, ia menanyakan tentang penasehat FLP SUMBAR, Pak Harris Effendi Thahar, dan penasehat FLP lainnya. Kemudian Bang Momon pun menyambung, ia mengajukan pertanyaan dan beberapa saran. Sepertinya saya tak ingin kalah, saya memberikan usulan, salah satunya agar pertemuan atau bedah karya yang di laksanakan oleh unit UNP (Universitas Negeri Padang) pada hari rabu diganti menjadi hari sabtu saja, dikarenakan saya berkuliah di Bukittinggi akan cukup sulit bagi saya untung bolak-balik tiap sebentar. Lalu bang Madi menjawab “enggak masalah sebenarnya, bisa saja hari sabtu. Nanti hubungi Ipat saja.”ucapan beliau melegakan saya.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Diskusi pun ditutup, kami harus segera menaiki kereta. Dan setelah lima belas menit di atas kereta, tiba-tiba kami dikagetkan oleh beberapa orang wanita yang mungkin lebih muda usianya dari kami. Mereka mengaku bahwa bangku yang mereka duduki adalah bangku mereka tadi. Mungkin memang benar, tapi peraturan seperti itu hanya berlaku hari minggu saja. Tapi mereka tetap ngotot dan bahkan mengeluarkan rangkaian kalimat yang sangat tidak enak didengar. Kami tetap duduk karena toh kami tidak salah. Bang Madi pun datang setelah kak Yanti meng-sms, beliau pun menjelaskan kalau selain hari minggu bebas memilih tempat duduk. Mereka tetap tidak mau terima. Kereta akhirnya mulai melaju. Beberapa saat setelah itu petugas kereta pun datang untuk meminta karcis kepada para penumpang termasuk kami. Mereka masih tetap ribut, “enggak capek apa yah?”ucap saya dalam hati. kak Ipat minta tolong kepada Bapak petugas itu agar menjelaskan pada mereka bagaimana peraturan yang sebenarnya. Tapi hasilnya tetap nihil. Untungnya suara kereta cukup keras untuk menelan suara-suara yang enggak penting itu.

Memang dasar penulis, kak Ipat langsung punya inisiatif untuk membuat tulisan tentang mereka. Kak Yanti pun tak kalah. Saya cuma bisa bilang, “hati-hati berhadapan dengan penulis karena anda tak kan pernah luput dari pantauan mereka!”saya membatin. Bang Momon memecah kesunyian hati kami, sunyi setelah para wanita-wanita kasar itu memuntahkan kekesalannya pada kami sehingga kami pun bisa menyunggingkan seulas senyuman. Yah, wanita-wanita kasar merupakan sebutan kak Yanti untuk mereka dalam puisi yang ditorehkannya.

Kereta akhirnya memasuki stasiun simpang haru. Saya sempat khawatir jangan-jangan mereka bakal bikin keributan lagi. Tapi syukur Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi. Sebelum berpisah Ali mahasiswa IAIN IB itu lagi-lagi tertawa mengingat kejadian di atas kereta tadi. Dasar si Ali, tega nian!! (shona ve)

Advertisements

3 thoughts on “Kereta Mau Tuk Tuk, Awas Ketinggalan Kereta!

  1. Asw. Kenapa ana selalu memotivasi kawan2 di flp SB untuk ikut diskusi di tambud? Karena setiap kita punya kesempatan untuk maju dalam dunia penulisaN. Terus berusaha dan berdoa. Itu kuncinya. Kita pasti bisa menjadi penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s